Ketika Gandrung Dihadirkan dalam Bahasa Sinema
BANYUWANGI — Rumah Kreatif Damar Art kembali mencoba ruang ekspresi baru dalam upaya memperkenalkan kebudayaan Banyuwangi. Kali ini, Damar Art mengikuti Kompetisi Film Pendek BPKW XI melalui karya berjudul “Gandrung: Nyala Jiwa Banyuwangi.”
Keikutsertaan ini menjadi bagian dari langkah Damar Art untuk memperluas cara dalam menyampaikan pesan kebudayaan. Jika selama ini seni tradisi banyak hadir melalui panggung tari dan musik, melalui film pendek Damar Art mencoba membawa nilai dan identitas Gandrung ke dalam bahasa visual dan sinema.
Gandrung menjadi salah satu kesenian yang memiliki posisi penting dalam identitas budaya Banyuwangi. Ia bukan hanya tentang gerak dan musik, tetapi juga menyimpan sejarah, nilai, dan ingatan masyarakat yang terus diwariskan.
Melalui Gandrung: Nyala Jiwa Banyuwangi, Damar Art ingin menjadikan medium film sebagai ruang dokumentasi sekaligus ekspresi kreatif untuk memperkenalkan kembali Gandrung kepada masyarakat luas.
Keikutsertaan dalam kompetisi ini juga menjadi pengalaman baru bagi Damar Art dalam mengembangkan kemampuan produksi lintas disiplin, sekaligus mempertemukan seni pertunjukan dengan media audio-visual.
Nyala yang Harus Terus Dijaga
Sebuah tradisi akan terus hidup ketika generasi muda menemukan cara untuk terus membicarakannya.
Hari ini Gandrung tidak hanya ditarikan. Ia dapat diceritakan, direkam, difilmkan, ditafsirkan, dan diperkenalkan melalui berbagai medium.
Gandrung adalah nyala jiwa Banyuwangi. Dan tugas generasi hari ini adalah memastikan nyala itu tidak padam.
Salam Damar Art Kuat! 💪
Salam Damar Art Murub! 🔥
Salam Seni dan Budaya!
#DamarArt #RumahKreatifDamarArt #LestariBudayaJatim #LombaVideoBPKWXI #KompetisiFilmPendek #GandrungNyalaJiwaBanyuwangi #Gandrung #GandrungBanyuwangi #SeniGandrung #FilmPendek #FilmBudaya #PelestarianBudaya #PemajuanKebudayaan #Banyuwangi #DamarArtMurub